Senin, 17 Juni 2013

Aku dapat pemasukan ilmu dari AAI


Asistensi Agama Islam atau yang biasa disebut AAI adalah suatu kegiatan wajib bagi mahasiswa Islam di Universitas Sebelas Maret, terutama bagi mahasiswa baru. AAI merupakan kegiatan diluar mata kuliah Agama Islam, namun nilai AAI akan mempengaruhi nilai mata kuliah Agama Islam. AAI wajib diadakan oleh setiap prodi selama 1 semester (di Jurusan Biologi)
Sebenarnya, materi atau ilmu yang disampaikan di AAI tidak jauh berbeda dengan materi yang disampaikan saat kuliah di kelas, sama-sama mengajarkan tentang ilmu agama islam, seperti aqidah ahklak islam, fiqh, sejarah Islam, ketauhidan dan sebagainya. Akan tetapi, di AAI secara tidak langsung kita juga diajarkan bagaimana cara berdakwah, bagaimana memperkuat keimanan dan keyakainan terhadap Allah SWT. Meskipun intinya sama dengan materi kuliah, materi AAI selalu dibuat semenarik mungkin dan disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa jaman sekarang. Ilmu-ilmu yang disampaikan dalam AAI memberikan banyak manfaat dalam kehidupan.
Banyak sekali yang sudah aku dapatkan dari AAI. Dapat asisten yang baik dan benar-benar baik (jujur dari relung hati yang terdalam). Mbak Majedha. Yang selalu mengayomi ku dan teman-teman sekelompok 3. Selalu terlihat ceria sehingga membuat kami selalu bersemangat ketika menyambut materi dan sesuatu hal yang kita bicarakan dalam kelompok kami. Terkadang beliau juga memberikan motivasi (sering malah) kepada kami ketika kami terlihat muram ataupun dalam masalah. Tak sungkan juga beliau memberikan masukan-masukan ketika kami ada sesi sharing.
Teknis yang di buat dari awal kita AAI adalah pembuatan piket untuk menjadi MC dan pemberi tausyah di setiap pertemuan AAI. Hal itu benar-benar mengajarkan kita untuk berdakwah dan memberikan materi yang bermanfaat. Materi yang diangkat dalam tausyah yang diberikan diantaranya berupa berita, tips, ataupun materi lainnya yang (jujur) sangat menarik. Setelah pemberian tausyah dari teman biasanya dilanjutkan dengan materi yang di isi oleh Mbak Majedha. Nggak tanggung-tanggung materinya, selalu membuat kita tertarik. Subhanallah.
Sebelum tausyah dan materi biasanya kita membaca Al-Qur'an dahulu beserta terjemahannya.
Selaim itu kegiatan kelompok kami pun beragam. Kegiatan di outdoor sudah terlaksana yaitu dengan kegiatan kita di Yogya. Hal ini membuat kekeluargaan kami semakin bertambah. Selain itu, saat ini kita juga memiliki planing untuk masak-masak (calon ibu-ibu :D).
Setelah aku mengikuti AAI beberapa bulan ini, aku merasakan hal-hal spiritualku berubah lebih baik. Kesabaran, ketenangan dalam menghadapi masalah, ternyata tidak sulit untuk mengatasinya jika kita selalu ingat kepada Allah SWT. Dulu aku selalu kemrungsung dan merasa crowded sendiri dalam menghadapi hal yang ruwet sedikit saja.
Sejauh ini, yang ingin aku dapatkan di AAI adalah materi-materi baru yang bisa membangun spiritual agar membuat hati ini lebih mantap dan istiqomah dalam menjalankan semua perintah Allah SWT sesuai tuntunan.  
Bagiku, AAI sangat bermanfaat dalam pembentukan kepribadian Mahasiswa Muslim. Kepribadian yang islami. Sehingga dalam kehidupan mahasiswa terdapat keseimbangan antara akhirat dan dunia. Karena tentu saja tanpa adanya AAI, dunia mahasiswa kebanyakan hanya berkutat dengan mata kuliah semata. Namun, dengan adanya AAI, mahasiswa diluangkan untuk berkumpul bersama membahas tentang islam, memahami tentang islam dan menjalankan syariat islam.

BUKU YANG INGIN DIBACA



  1. Pada Sebuah Kapal – NH Dini
  2. Buku Mac Kinon :DD
  3. Novel 2- Dhonny Dirghantoro
  4.   Berfilsafat dengan Anekdot(Plato ngafe bareng singa Laut)- Thomas C and Danieal M. K
  5.  Jejak Tinju Pak Kiai- Emha Ainun Nadjib
  6. Lupa Endonesa- Sujiwo Tedjo
  7. Tuhan Maha Tau, Tapi Dia Menunggu-Leo Tolstoy
  8. Anak Semua Bangsa- Pramoedya A. T
  9. Bumi Manusia- Pramoedya A. T
  10. Toto Chan 2- Tetsuko Kuroyanagi
  11. Ratu yang Bersujud- Mahdavi
  12. Rembulan Tenggelam di Wajahmu- Tere Liye

RESUME MATERI



Umat muslim atau orang-orang yang mengaku bahwa dirinya seorang yang beragama Islam harus memiliki karakteristik kepribadian yang membedakan dirinya dengan orang yang bukan beragama Islam, berikut adalah 10 karakteristik ataupun ciri khas kepribadian umat muslim:
  1. Memiliki aqidah yang bersih. QS. Al-An’am ayat 162: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.
  2. Ibadah yang benar
    Ada 2 perkara yang diwariskan oleh Rosulullah SAW, selama umat islam memgang teguh 2 perkara tersebut ia akan selamat di dunia dan akherat, 2 perkara tersebut yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.
    Ibadah yang benar adalah ibadah yang sesuai dengan pedoman hidup umat islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits yang di dalamnya menuntun kita selamat di dunia dan akherat. termasuk yang ada dalam rukun iman dan rukun Islam. Rukun Islam terdiri dari membaca Syahadat, menjalankan Sholat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, berzakat, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu.
  3. Mempunyai akhlak yang kokoh. QS. Al-Qolam ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
  4. Memiliki jasmani yang kuat.
  5. Memiliki intelektual yang cerdas. Seorang muslim dituntut untuk menjadi cerdas dan tanggap terhadap situasi kondisi dimanapun seorang muslim berada.
    QS. Al-Baqoroh ayat 219: “... Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”.
  6. Berjuang melawan hawa nafsu. Baca QS. Al-Mu’minuun ayat 1-11.
  7. Pandai memanfaatkan waktu. QS. Al-‘Ashr ayat 1-3 : “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
  8. Teratur dalam suatu urusan (profesional) atau pun suatu masalah.
  9. Memiliki kemampuan untuk hidup mandiri secara ekonomi
    QS. Al-Qoshosh ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. 
  10. Bermanfaat bagi orang lain.  Ayat yang mendasari hal ini sama dengan poin no.9 yaitu QS. Al-Qoshosh ayat 77.

TARGET YANG INGIN DICAPAI SELAMA BULAN RAMADHAN

Dari surah Al Baqarah ayat 183 di atas terlihat bahwa target akhir (sasaran atau tujuan) puasa wajib di bulan Ramadhan adalah agar orang beriman itu menjadi orang yang bertaqwa. Jadi tujuan puasa bukan agar orang menjadi lapar dan haus, jauh lebih besar dan lebih mulia daripada itu. Dibandingkan ibadah lain maka puasa mempunyai nilai yang sungguh besar dan mulia dimana pahala puasa itu hanya Allah yang tahu, karena Allah sendiri yang membalasnya.  :))
Target yang ingin aku capai selama bulan Ramadhan nanti, insya Allah khatam Al-Qur'an. yang penting aku khatam Al-Qur'an, entah itu mau berapa kali itu lillahi ta'ala. :D. Yang penting aku bisa melakukannya, dengan ikhlas, mengharap ridho Allah. Semisal nanti aku memang hanya bisa khatam 1 kali, ya memang itu kemampuanku. aku juga nggak mungkin melakukan sebuah amalan namun karena terpaksa. :))
Target selanjutnya adalah tetap menjaga kesehatan baik jasmani ataupun rohani.
Berpuasa adalah ibadah mahdhah. Tapi orang yang berpuasa juga sebenarnya adalah orang yang peduli dengan kesehatan. Makanya Rasulullah saw. berkata, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Tak heran jika selama berpuasa Rasulullah saw. tetap memperhatikan kesehatan giginya dengan bersiwak, berobat dengan berbekam, dan memperhatikan penampilan, termasuk tidak berwajah cemberut. :)) aku akan berusaha untuk selalu menjaga hati dan perbuatan dari hal-hal yang menurut aku tidak sepantasnya dilakukan (orang bilang perbuatan tidak baik) seperti marah, menyinggung perasaan teman, bermalas-malasan dan perbuatan negatif sejenisnya.

LANGKAH MENYAMBUT RAMADHAN



1. Memperbanyak doa
Memperbanyak doa agar :
a. Allah SWT memberi kesempatan kita untuk bertemu Ramadhan.
b. Saat bertemu Ramadhan kita dalam keadaan sehat wal ‘afiat.
c. Kita bersemangat dalam mengisi Ramadhan dengan berbagai amal shalih.
d. Kita dihindarkan dari berbagai hal yang akan mengganggu upaya optimalisasi Ramadhan.
Saat beliau saw melihat munculnya hilal yang menjadi pertanda awal bulan, beliau berdo’a:
Dari Ibnu Umar ra ia berkata: Rasulullah saw jika melihat hilal beliau bersabda: Allah Maha Besar, ya Allah, jadikanlah hilal ini hilal yang membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufiq kepada segala hal yang dicintai dan diridhai Tuhan kami, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah (H.R. Ahmad dan Ad-Darimi, redaksi yang dipergunakan adalah redaksinya, juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dinilai shahih olehnya).
Diriwayatkan juga bahwa saat Ramadhan tiba, beliau saw berdo’a:
Ya Allah, selamatkan saya untuk Ramadhan dan selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan dia sebagai amal yang diterima untukku (H.R Ath-Thabarani dan Ad-Dailami).
Setelah kita berdoa dan doa kita dikabulkan Allah SWT, hendaklah kita istiqamah (konsisten) dengan apa yang kita minta serta tidak mengikuti jalan orang-orang yang tidak berilmu, sebagaimana tersebut dalam cerita nabi Musa dan Harun as. Allah SWT menceritakan kejadian itu dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. (Q.S. Yunus: 89).
2. Memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu Ramadhan.
Imam Nawawi berkata: disunnatkan bagi siapa saja yang mendapat kenikmatan baru yang tampak jelas atau bagi yang terhindar dari cobaan yang tampak jelas untuk melakukan sujud syukur atau memperbanyak pujian kepada Allah.
Dan merupakan kenikmatan terbesar saat kita mendapatkan taufiq untuk melakukan ketaatan, dan saat kita memasuki Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat adalah sebuah kenikmatan besar yang patut kita ekspressikan dengan memperbanyak pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT.
3. Bergembira dan ceria atas kedatangan Ramadhan.
Tersebut dalam hadits bahwa Rasulullah saw menyampaikan berita gembira kepada para sahabat tentang kedatangan bulan Ramadhan.
Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw saat Ramadhan tiba bersabda: Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, Allah telah wajibkan atas kalian puasa di siang harinya, pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu, pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang (H.R. Ahmad).
Begitu juga para salafush-shalih, mereka menampakkan ekspresi kegembiraan yang berlebih bila bulan Ramadhan riba.
4. Menyusun perencaan yang baik untuk optimalisasi Ramadhan.
Banyak orang menyusun rencana matang dan rinci untuk urusan dunianya, namun, sering sekali lupa menyusun rencana yang baik untuk akhiratnya. Ini pertanda bahwa mereka belum memahami dengan baik missi hidupnya. Karenanya, banyak peluang kebaikan luput dari mereka. Mengingat Ramadhan banyak menjanjikan berbagai kebaikan, sudah selayaknya bila seorang muslim memiliki rencana yang matang dalam hal ini. Buku pendek yang ada di tangan anda ini semoga bisa membantu dalam hal ini.
5. Tekad yang sungguh-sungguh untuk optimalisasi Ramadhan, mengisi waktu-waktunya dengan berbagai amal shalih.
Siapa yang berazam dengan sesungguhnya kepada Allah SWT niscaya Dia akan sungguh-sungguh pula dalam merealisasikan tekadnya serta memberi pertolongan kepadanya untuk berbuat taat dan memudahkan berbagai jalan kebaikan. Allah SWT berfirman:
Tetapi jika mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (Q.S. Muhammad: 21)
6. Ilmu dan pemahaman yang baik terhadap hukum-hukum Ramadhan.
Adalah kewajiban setiap mukmin untuk beribadah kepada Alalh SWT atas dasar ilmu dan pemahaman, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahui kwajiban-kewajiban yang telah Allah SWT fardhukan atas hamba-hamba-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah puasa Ramadhan. Karenanya, seyogyanya setiap muslim mengetahui masalah-masalah puasa dan hukum-hukumnya sebelum bulan puasa itu datang, agar puasa yang dia lakukan menjadi sah dan diterima di sisi Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui (Q.S. Al-Anbiya’: 7).
7. Bertaubat
Tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa dan keburukan, serta taubat yang benar dari segala kemaksiatan, mencabut diri darinya serta tidak akan kembali kepadanya, sebab bulan Ramadhan adalah syahrut-taubah (bulan taubat), oleh karena itu, siapa saja yang tidak bertaubat pada bulan ini, kapan lagi ia akan bertaubat?
Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung (Q.S. An-Nur: 31).
8. Pengkondisian jiwa dan ruhani
Pengkondisian jiwa dan ruhani melalui bacaan, telaah kitab dan buku, mendengar kaset Islami yang berisi ceramah atau pelajaran yang menjelaskan keutamaan-keutaam puasa dan hukum-hukumnya agar jiwa menjadi kondusif untuk taat. Rasulullah saw telah menyiapkan jiwa dan spirit para sahabat untuk optimalisasi Ramadhan pada akhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda:
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan… (H.R. Ahmad dan Nasa-i).
9.Menyambut Ramadhan dengan membuka lembaran putih bersama:
a. Allah SWT dengan cara bertaubat dengan sesungguhnya.
b. Rasulullah saw dengan cara taat kepadanya dalam hal yang ia perintahkan dan meninggalkan segala yang dicegah dan dilarang.
c. Kedua orang tua, istri/suami, anak-anak, kerabat, sanak famili, handai tolan dan semacamnya.
d. Masyarakat tempat ia bertempat tinggal agar menjadi hamba yang shalih dan bermanfaat. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
Seutama-utama manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manus

Jumat, 07 Juni 2013



ASAL MULA AMERIKA SERIKAT
MENDAPAT JULUKAN PAMAN SAM ( UNCLE SAM)

            Uncle Sam atau Paman Sam adalah julikan yang diberikan kepada negara Amerika Serikat, ayau disebut engeri paman Sam.
            Dahulu ada orang yang bernama uncle Sam Wilson yang lahir di Arlington, tanggal 13 September 1766. pada usia 14 tahun dia menjadi sukarelawan pejuang bagi negaranya. Setelah dewasa, ia membuka usaha kemasa daging di New York



Jumat, 30 Desember 2011

Cerpen Jaman SMA

Diare Cinta

Dingin Jumat subuh menusuk tulang ketika Tisa membuka jendela kamar kosnya. Dia baru saja selesai solat subuh dan hendak mengerjakan PR nya, PR Bahasa Jepang. Tadi malam, dia tidak sempat menyelesaikan PR Bahasa Jepangnya karena sangat capek. Saat Tisa menempelkan pantatnya di kursi belajarnya, dia terkejut akan suara pintu kamarnya yang terbuka oleh seseorang. Oh, pintu kamar memang tidak dalam keadaan terkunci. Sedikit melotot mata Tisa ketika mengetahui bahwa yang membuka pintunya tanpa salam tanpa ketuk itu adalah temannya, Wini.
“Tis, punya minyak kayu putih ndak?”
“Heh, ngapain kamu? Pucet amat. Sakit??”
Tisa beranjak dari kursi yang didudukinya, mengambilkan minyak kayu putih untuk Wini.
“Nih.” Tisa mengulurkan minyak kayu putih itu.
Wini yang duduk di kasur Tisa itu menerima minyak kayu putih sambil merintih. Tangan kirinya memegangi perutnya.
“Kenapa ik?” tanya Tisa sembari duduk di samping Wini.
Mencret.”
“Heepppp…” Tisa menahan tawanya yang hampir meledak. Dia menutup mulutnya  dengan tangan kanannya.
Ngguyu o ngguyu o.” kata Wini sebal.
“Haha, ya udah, kamu tidur saja sana. Aku mau mandi, nanti KAEM (kamar mandi) keburu penuh.”
Tisa mengambil handuk yang tergantung di kastok dan bergegas menuju kamar mandi. Baru sampai depan pintu kamarnya, dia berbalik lagi masuk. Hendak mengatakan sesuatu kepada Wini.
Tisa berkata kepada Wini bahwa dia pengen pulang. Semalam, Tisa memimpikan mamanya. A nightmare.
“Halah, cuma mimpi, mimpi kan cuma kembang tidur,” kata Wini menanggapi curahan hati Tisa itu.
“Lha kalau kembang lambe apa? Hihi.”
Pertanyaan yang sama sekali nggak masuk dan nggak penting itu keluar dari mulut Tisa. Membuat Wini nyengir, tapi sambil mikir. Mulesnya pun berangsur membaik.
“Gosip kan jawabannya?” Wini mencoba menebak.
“Salah, yee. Haha.”
Tisa kembali meraih handuknya yang tergeletak di kasur. Beranjak keluar dari kamarnya. Sampai di pintu dia berbalik dan mengatakan jawabannya pada Wini.
“Jawabannya, adalah…. Win, tiap malem kan kamu mengalaminya. Haha haha.”
“Hi, nggilani.
Tisa terbahak-bahak sejak dari kamarnya sampai di kamar mandi. Sampai- sampai, anak kos yang lainnya heran akan tingkahnya. Seperti orang kesurupan.
Sedangkan Wini yang masih di kamar Tisa itu memilih untuk berbaring. Kembali memegangi perutnya yang berasa pengen pup. Wini memejamkan matanya. Sebenarnya dia pengen izin nggak masuk sekolah hari ini.
***
Meskipun rasa mulesnya masih terasa sedikit, Wini tetap bersemangat untuk berangkat sekolah mulesnya sudah tak sehebat tadi subuh karena Tisa telah membuatkan larutan gula garam sebagai obat diare. Tujuh anak kos itu berangkat sekolah bersama-sama. Jalan kaki pastinya.
***
Saat pelajaran Bahasa Jepang berlangsung, salah seorang anak di kelas Tisa, izin ke kamar kecil. Namanya Adihosa, biasa dipanggil Hoho. Namun, setelah 15 menit, Hoho belum juga kembali ke kelas. Kemudian Guru Bahasa Jepang menyuruh dua anak laki- laki untuk mengecek atau mencari Hoho semisal ada apa-apa. Hal itu membuat seisi kelas gaduh. Mereka menebak - nebak sesuatu yang akan terjadi pada Hoho.
Tisa mendengar salah satu anak di kelasnya berkata bahwa Hoho tidur di kamar kecil. Hal itu membuat Tisa tertawa gila.
Sepuluh menit kemudian.
Anak-anak seisi kelas cekikikan ketika Hoho masuk kelas sambil memegangi perutnya. Alis Tisa terangkat seketika, heran akan apa yang telah terjadi pada Hoho. Tapi, pikiran usilnya muncul ketika Hoho sampai di tempat duduknya, di belakang Tisa.
“Diare ya Bang? Makan saus berapa karung tadi malam? Haha,’’ kata Tisa dengan nada mengejek.
Pandangan Hoho terhadap Tisa sangat tidak enak. Tisa sadar mungkin Hoho akan marah andai masih mengeluarkan kata-kata yang menyinggung. Maka, ekspresi wajah Tisa berubah menjadi datar, dia berbalik arah, menghadap depan kembali.
Pandangan Hoho tadi sangat merusak konsentrasi Tisa dalam menerima pelajaran. Wajah orang yang ada di belakangnya kini sedang  berlari-larian dalam otakknya. Dan, dia ingat akan sesuatu. Dasar pelupa. Tadi malam, dia ditraktir makan mie ayam oleh Hoho. Malam itu pula, Hoho menyatakan perasaannya kepada Tisa. Namun, Tisa tidak menanggapi dengan serius. Tisa  tidak sadar bahwa teman kecilnya itu jatuh cinta dan berusaha mendapatkannya. Dan kini, ketika Hoho sedang sakit, Tisa tidak memedulikannya. Malah mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan Hoho. Sadis.
Tisa tersadar dari lamunan setelah teman sebangkunya, Wini, menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Tisa.
“Apaan sih?” kata Tisa menyambar tangan Wini
“Apa -apaan. Kamu tu ngalamun tau!” suara Wini terdengar seisi kelas. Sontak seluruh bola mata di kelas itu tertuju pada bangku mereka. Termasuk Guru Bahasa Jepang yang sedang menerangkan.
 “Kimitachi, nani o shite imasuka?” (Hei, kalian sedang apa?) tanya Guru Bahasa Jepang itu.
“Eh, ano. Oka ne ga arimasen.” (Eh, anu. Saya tidak punya uang).
Jawaban ngawur dari Wini itu membuat Tisa terkekeh. Sedangkan Guru Bahasa Jepang hanya geleng-geleng sambil membetulkan kacamatanya. Cukup ndongkol mungkin. Anak-anak yang lain cuma diam karena tidak mengerti apa yang dibicarakan antara Guru Bahasa Jepang itu dengan Wini dan Tisa.
Bel istirahat berbunyi. Pelajaran Bahasa Jepang berakhir.
Sebelumnya, Tisa dipanggil oleh Guru Bahasa Jepang itu. Dilihatkannya, nilai ulangan Bahasa Jepangnya yang ke-dua adalah 100. Senyum Tisa mengembang menghiasi raut wajahnya ketika kembali ke bangkunya. Sudah tidak ada Wini ternyata. Sejenak, dia melihat Hoho yang sedang tertunduk. Tisa duduk menghadap belakang, lalu mengajaknya bicara.
“Ho, nanti mau ikut nge-mie bareng temen-temen nggak?” kata Wini menawarkan. Karena sebelumnya, temen-temen itu ribut pengen nge-mie bareng – bareng.
Hoho mengangkat kepalanya. Berdiri, lalu berjalan menuju meja Tisa. Membuat Tisa memutar badannya menghadap depan kembali. Salah satu tangan Hoho memegang kursi yang diduduki Tisa, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke arah Tisa sambil berkata pelan “Ogah, aku nggak sudi!” lalu dia pergi keluar kelas. Tisa hanya terdiam bisu.
Glek.
Singkat, pelan, namun tajam. Kalimat itu terucap dari mulut Hoho. Tisa sempat melongo beberapa saat karena dikiranya Hoho akan menciumnya. Dia  menelan ludah, heran sekali karena Hoho menjadi galak seperti enam tahun yang lalu. Matanya kini masih menatap punggung Hoho. Dia mencoba berlapang dada menerima kalimat Hoho yang membuat hatinya berdesir. Lalu menarik napas panjang dan berkata dalam hati.
“Ya sudah kalau tidak mau.”
***
Bel pulang sekolah.
“He, Tis! Nanti jadi nge-mie lhoo ya. Habis Jumat an,seru seorang anak perempuan.
“Heee, he-eh, ayo bareng- bareng biar rame.”
“Kamu yang bayarin ya Tis, hehe. Nilai fisikamu kan 100.”
“He e, traktiran yoooo.”
Teriakan – teriakan dari teman- teman Tisa membuat Tisa kebingungan. Bahkan, dia lupa bahwa nilai ulangan fisikanya kemarin dapat 100.
“Hi? Kok aku sih?” celoteh Tisa nyengir.
“Ya selebrasi dikit dong Tis, selametan.” Lala yang duduk di depannya itupun menimpali.
Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Tisa menyetujui. Dia akan mentraktir sebagian temannya makan mie ayam di warung mie ayam yang ada di sebelah utara sekolah.
***
Tisa masih membereskan buku-bukunya yang berserakan di laci meja di kelasnya. Sembari dia memikirkan teman- temannya sekitar tujuh orang itu yang bener-bener minta ditraktir. Yang lainnya, dia fikir, nggak bakal tega ngeretin uangnya meskipun Tisa punya uang lebih.
“Win, ayo pulang!
“Bentar dong Tis, lacinya banyak sampah.”
Tisa membalikkan badannya ke arah bangku belakang. Dia agak kaget. Ternyata, bangku belakang masih ada penghuninya, yang tak lain adalah Hoho, yang sedang menggambar abstrak nggak jelas di secarik kertas polos.
Kalimat “Loh kok belum pulang?” tidak jadi dilontarkan Tisa untuk Hoho. Dia teringat akan kejadian tadi sewaktu istirahat, yang sedikit menyesakkan dadanya. Sebenarnya Tisa ingin sekali meminta maaf kepada Hoho. Namun, ada saja suatu hal yang menghalanginya untuk berbicara dengan Hoho.
Ketika Hoho menatapnya tajam, Tisa berpaling dan bergegas pulang bersama Wini meninggalkan Hoho sendirian di kelas. Dan, Tisa lupa meminta maaf.
***
Tisa datang bersama Wini di warung mie ayam di sebelah utara sekolah itu pukul 12.55. Ternyata  sudah ada lima anak yang menunggunya.
“Weee, Bos kita datang”
“Loh, kok mbawa tas, mau kemana?” tanya seorang temannya.
“Habis ini aku mau pulang.”
“Pulang kemana? Ke rumah? Lhaa, nanggung banget, ini kan hari Jumat Tis, kenapa nggak besok aja pulangnya?”
Pertanyaan itu tak terjawab oleh Tisa.
Tisa duduk di sebelah Rouf, temannya yang paling gokil meskipun  letoy. Dia panggil pelayan lalu memesan enam mie ayam dan tujuh teh. Wini tidak ikut makan mie ayam, belum berani. Takut kalau perutnya sakit dan diare lagi.
“Aku lagi pengen pulang.”
Perkataan Tisa memecah keheningan diantara tujuh anak yang duduk mengelilingi meja persegi panjang itu. Mereka hanya mengangguk- angguk setelah mendengar pernyataan dari Tisa.
Tak lama kemudian pesanan berupa enam mie ayam dan teh sebanyak tujuh gelas itupun mendarat di meja yang dikelilingi tujuh anak itu.
“Satu, dua tiga.”
“Makan.”
Mereka sangat bersemangat sekali ketika menuangkan saus, kecap, sambal, dan sebagainya. Nggak tanggung- tanggung, Tisa menuangkan saus sebanyak tiga sendok makan penuh. Rouf pun sampai melongo melihat tingkah Tisa.
“Tis, lebay amat sih kamu.”
“Kebanyakan ya? Biarin deh.”
“Serius lo? Nggak kasian sama perut lo?” ucap Rouf berlagak anak gaul.
“Ck, yang penting makan. Yuuk.”
“Sterah deh.”
“Hh, Tisa kan anak ular.”
“Haish, urusai- berisik.”
“Teman-teman, berdoa dulu sebelum makan,” ucap Fatim yang biasa di panggil teman- temannya dengan nama Ustazdah itu.
Setelah menghabiskan mie ayamnya, Tisa berpamitan kepada teman-temannya untuk pulang dulu karena sebentar lagi ayahnya akan menjemput. Tisa memberikan sejumlah uang kepada agar nanti seluruh makanan dibayar.
Dia tinggalkan teman – temannya lalu menuju halte, menunggu kedatangan papanya. Sesaat setelah sampai di halte, mendadak ada pengendara motor yang berhenti dihadapannya. Tia tidak mengenalnya karena wajahnya tertutup oleh helm.
Saat pengendara motor iu melepas helmnya, Tisa agak terkejut. Pemakai helm hijau floral itu adalah Hoho. Senyum Hoho mengembang, membuat Tisa tak bergerak beberapa detik.
“Mau kemana?” Hoho beloum turun dari motornya.
“Mau pulang,” kata Tisa berpaling.
“Pulang? Pulang ke rumah? Ngapain?”
“Iya, ya pengen pulang aja, Ho.” Katanya datar sembari menengok jam tangannya. Kini Dia benar-benar  nggak bisa menatap mata Hoho. Entah mengapa.
“Mau ku anter?”
Tisa sempat menelan ludah. Hoho yang tadi siang galaknya minta ampun, sekarang jadi kalem. menawarkan jasa mengantar Tisa pula.
“Eh, enggak, Ho, makasih. Aku dijemput Papa kok, itu mobilnya udah keliatan,” kata Tisa dengan senyum. Kini dia tatap sepasang mata manusia yang ada di depannya.
Hoho menoleh ke belakang, melihat mobil yang ditunjuk oleh Tisa. Mobil itu kemudian berhenti persis di depan halte, di depan motor Hoho. Ketika kaca depan mobil itu terbuka, Hoho menampakkan senyum manisnya ke seorang laki- laki yang ada di belakang kemudi, yang tak lain adalah Ayah Tisa. Senyum balasan pun berhasil Hoho dapatkan,
“Aku pulang duluan ya, see you.”
Tisa masuk ke dalam mobil itu.
“Ya,” kata Hoho singkat sambil menganggukkan kepalanya.
Mobil itu melesat pelan meninggalkan Hoho yang masih di halte bersama motornya itu.
***
“Itu tadi Hoho ya Tis? Kalian pacaran?”
Pertanyaan yang sedikit nabrak hati Tisa itu membuatnya sedikit sungkan untuk membahas hal itu meskipun Hoho bukan pacarnya.
“Iya Pa, Hoho teman kecil Tisa kan Pa. enggak, kita enggak pacaran, kita Cuma temen kok Pa.” Tisa berusaha menjelaskan.
“Oh, begitu. Ya, kalau bisa kamu jangan mikir yang gitu- gitu dulu. Sekolah dulu, yang pinter, yang rajin, biar jadi orang yang berguna.”
Tisa mengangguk - angguk sambil meresapi kata- kata ayahnya itu, yang mungkin, belum membolehkan Tisa untuk berpacaran.
Di dalam perjalanan, ayah Tisa bercerita bahwa mama tadi malam diare. Itu terjadi  lantaran mama Tisa kebanyakan makan pepaya.
Hal itu membuat Tisa merenung. Tiga orang terdekatnya kini sedang diare. Jangan- jangan, habis ini, giliran dia yang diare. Oh tidaaak.
“Kok malah melamun sih? Hm, nggak usah sedih, Mama mu udah baikan kok.”
“Eh…,” Tisa terbangun dari perenungannya.
“Oh, ya Alhamdulillah deh Pa,” lanjut Tisa.
“Oh ya, Papa lupa  tanya, ngapain kamu pulang Jumat –Jumat gini, nanggung. Kenapa nggak besok aja?”
“Hehe. Punya feeling Pa. dan feelingku itu benar lhoo. Fellingku kan mama sakit. Beneran kan? He,” jawab Tisa cengar cengir.
Sampai di rumah.
Mama Tisa agak terkejut melihat anak gadisnya itu  pulang. Dikiranya ada apa-apa yang terjadi padanya Karena sebelumnya Tisa tidak memberi kabar kepada mamanya bahwa Dia akan pulang. Tisa mendarat dipelukan mamanya.
Tisa merasa kehausan setelah ia mencuci kakinya. Ketika hendak menuju ke kamar, Dia melihat ada 1 paket minuman kesehatan dengan merk “yakult” terselip diantara meja dispenser dan lemari es. Tisa suka minuman itu sejak kecil karena rasanya yang  menurutnya enak dan sehat. Tisapun segera merobek plastik pelindung empat botol minuman itu, lalu membuka tutupnya kemudian meminumnya. Dia habis dua botol.
Adiknya paling kecil yan usianya 9 tahun itu datang menghampirinya.
“Kak, kok diminum to?”
“Loh, yakult ini minuman kesehatan lhoo. Bagus untuk usus kita. Kok malah heran kamu ini.”
“Kata mama, ini udah kadaluarsa Kak, makanya tadi diselipkan di sini neeehh.”
Kata- kata polos yang terucap oleh adiknya itu membuat Tisa membelalakkan mata dan super kaget. Tisa lalu melihat label kadaluarsanya yang ada pada botol kemasan yakult itu. Dan benar aja, minuman itu sudah kadaluarsa satu hari. Entah mengapa mama nya bisa membeli barang kadaluarsa itu. Tisa lalu membuang sisa yakult itu ke bak sampah.
“Halah, baru kadaluarsa satu hari Dek, nyante aja lagi. Paling- paling ya nggak ngefek.”
Adiknya hanya diam.
***
Malam harinya, perut Tisa mules minta ampun, sampai merintih- rintih seperti  orang kelaparan. Dia sudah 4 kali ke WC. Ya, Tisa diare. Tisa sudah dibujuk- bujuk oleh mama dan ayahnya untuk ke dokter. Tapi Tisa tidak mau.
“Tadi kamu makan apa aja to kok bisa kayak gini?” tanya mama Tisa sembari memberikan air putih untuk Tisa.
“Makan mi ayam, Mah.”
“Kebanyakan saus?”
Tisa tidak menjawab, dia terus merintih dan lama- lama dia merasakan pusing.
“Mah, tadi Kak Ntis minum yakult kadaluarsa tadi, Mah,” kata adik Tisa yang tiba- tiba nyelonong asuk ke kamar.
“Ya Allah, ya udah ayo ke dokter aja, biar nati dikasih obat, Tis,” ajak mama Tisa.
“Kak Ntis sih, tadi malah menyepelekan. Jadi sakit kan!” celoteh adik Tisa itupun tak membuat sakit Tisa berangsur membaik, malah semakin parah.
***
Setelah Dokter mendiagnosis sakit yang dialami Tisa, Dokter berkata bahwa Tisa harus dirujuk ke rumah sakit karena diare Tisa memang harus ditangani lebih lanjut.
Tisa menjadi tambah lesu ketika mendengarkan pernyataan dari dokter itu. Kalau dia dirujuk di rumah sakit, kemungkinan dia akan dirawat inap, berhubungan dengan suntik, infus dan obat. Sebenarnya Tisa membenci itu karena pada dasarnya, Tisa benci sakit. Ya, semua orang pasti tidak suka sakit. Tapi, mau bagaimana lagi, memang obatlah yang menjadi teman orang sakit? Toh ini demi kesembuhannya agar bisa sehat kembali.
            Benar saja, Tisa dirawat inap di rumah sakit yang lumayan jauh dari rumahnya. Mukanya jadi pucat pasi ketika perawat hendak memasang infus. Tapi Tisa berusaha kuat.
            Tisa belum mengabari teman- temannya di sekolah tentang keadaan dirinya.  Yang sudah pasti tidak akan masuk sekolah besok pagi. Tisa nggak mampu berbuat banyak.
            “Pah, buatin surat ijin lho,Pah,” kata Tisa memecah keheningan ruangan Tisa itu.
            Adik Tisa sudah tidur di kursi di sebelah televisi. Mama Tisa sedang keluar membeli cemilan untuk Ayah Tisa.
            “Iya, sekarang kamu istirahat dulu aja.”
***
Ketika mengetahui bahwa Tisa sakit, Wini tampak tak bersemangat. Tapi Wini punya rencana, sepulang sekolah nanti dia akan menjenguk Tisa, yang pastinya bersama anak-anak di kelas.
Demikian pula dengan Hoho. Tisa, orang yang telah menolak cintanya kemarin lusa dan menolak jasanya kemarin itu jatuh sakit. Jenis sakitnyapun sama dengan sakit yang dialaminya kemarin, cuma lebih parah Tisa.
“Andaikan engkau di sini, aku akan selalu menjagamu,” kata Hoho dalam hati.
Pulang sekolah, sekitar 15 anak menuju ke rumah sakit tempat Tisa di rawat. Hoho pun juga ikut. Sebelumnya, mereka membelikan buah tangan untuk Tisa.
Di tengah- tengah perjalanan motor Hoho mogok dan harus dibawa ke bengkel. Hati Hoho kesal. Teman – teman yang lainnya memutuskan untuk duluan karena hampir hujan.
“Gimana Ho?” tanya Wini
“Wah, mesinnya sakit nih, kalian duluan aja nggak papa, keburu hujan ntar . Nanti aku nyusul, nanti aku sms sin ruangannya ya.”
“Oke deh, ati – ati lho.”
“Sip.”
Cukup lama Hoho berada di bengkel, hingga hujan pun tiba.
***
Tisa sedang ditunggu oleh kakak sepupunya. Ayahnya kerja, meskipun ini hari Sabtu, lembur. Dan mamanya harus mengurus adiknya.
Tisa yang sedang nonton TV itu terkejut ketika pintu ruangan dibuka tanpa ketuk oleh seseorang.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, Ya Allah kalian.”
Tisa merasa  seperti kehujanan uang ketika teman- temannya  masuk ke ruangannya. Nggak nyangka kalau teman – temannya bakal sepeduli ini. Dia kira hanya Wini saja yang bakal menjenguknya.
“Mbak, itu teman-temanku,” ucap Tisa pada sepupunya.
Tapi, ada yang mengganjal. Dia tidak melihat Hoho di rombongan teman- temannya ini. Apa Hoho memang sudah tidak peduli akan keadaannya lantaran ditolak? Tisa tak tau.
“Tis, ini ada sedikit cemilan buat kamu, biar cepet sembuh, hehe,” ucap Rouf si gokil itu.
“Maaf Tis, anak- anak nggak bisa ikut semua, termasuk wali kelas kita, Bu Arin nggak bisa ikut.”
“Mungkin pada mau malming, haha.”
“Kalau kita malming nya ya di sini aja, ya nggak?”
Di dalam obrolan mereka, Tisa hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia merasa tidak ada satupun anak yang membicarakan Hoho. Dan, hujan sangat lebat. Membuat Tisa yakin bahwa Hoho tidak menjenguk dirinya.
Teman- temannya itu terus mengobrol dan menghibur Tisa. Sedangkan di luar sana, Hoho harus menembus hujan lebat melewati jalanan yang macet. Demi menjenguk Tisa.
Sesampainya Hoho di rumah sakit, hujan sudah reda. Dia membuka HP nya. Mendapat sms dari Rouf tentang keberadaan Tisa. HP nya bergetar kembali. Sms dari Rouf lagi.
From: Rouf
To: Hoho
Ho, sampai mana kamu?
Lama banget. Kita udah mau pulang ni.

Hoho lalu bergegas menuju ruang tempat Tisa dirawat. Rambut cepaknya berantakan karena memakai helm.
Di ruangan Tisa.
“Wah Tis, udah sore ni, kita..,” kalimat Wini terhenti karena pintu terbuka oleh seseorang.
“Halo, sory guys telat,” kata Hoho agak terengah engah.
“Wah, nggak jadi pulang nih kita,”
“Kita nginep aja ya Tis, boleh yaa. Hehe”
Melihat Hoho, hati Tisa menari – nari tapi raganya hanya diam, melongo. Tisa merasa hari ini Hoho cool banget. Hoho menghampiri raga Tisa yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur putih itu. Menatap wajah pucat dan mata sayu Tisa. Hoho tersenyum, Tisa membalasnya, lalu mengajakknya salaman.  Teman – teman Tisa kini malah pada nonton TV di dekat sudut ruangan. Kakak Tisa memilih untuk keluar mencari cemilan.
Hoho lalu duduk di kursi, persis di sebelah Tisa.
“Gimana? Sakit?” kata Hoho ketus.
Kata- kata itu Membuat Tisa ndongkol habis- habisan. Di kiranya Hoho akan mengajakknya bicara baik- baik, tapi ternyata, menyebalkan.
Tisa tidak menjawab pertanyaan itu. Dia memalingkan wajahnya.
“Makanya, jangan suka ngejek orang, nanti mbalik. Iya kan? Ini buktinya, kamu kena sendiri,” kata Hoho sambil mengacak-acak  rambut Tisa.
Tisa melirik Hoho, mulutnya masih rapat. Raganya serasa melayang ketika Hoho meraih tubuhnya ke pelukan .
“Tis, maafin aku ya. Aku sayang kamu,” ucap Hoho pelan.
Air mata Tisa jatuh membahasi pipinya. Dia tak menyangka ini akan terjadi. 
“Iya. Ho. Aku juga minta maaf Ho, aku banyak salah sama kamu,” kata Tisa sedikit terisak.
Dan kini, air mata Tisa membasahi bahu kanan Hoho, Tisa merasa banyak salah dengan Hoho. Hati Tisa merasa nyaman berada di pelukan Hoho meskipun air matanya mengucur deras. Mereka terdiam beberapa saat. Tisa melepaskan pelukannya. Di tatapnya orang yang ada di hadapannya. Tersenyum.
Get well soon ya,” telapak tangan Hoho mengusap air mata yang tercecer di pipi Tisa.
Tisa tersenyum. Merasa lega.
Hoho membuka tirai yag merupakan sekat antara tempat tidur Tisa dan ruang tamu. Kemudian berseru kepada teman- temannya.
“Ayo pren, pulang, keburu hujan lagi ntar.”

Tidak ada yang mengerti bahkan melihat pembicaraan singkat antara Tisa dan Hoho itu. Dan, tidak ada satupun dari teman Tisa yang penasaran.